Review Novel Cinta Dalam Diam Full Episode - Shineeminka

 

Hello gaes,, mari kita Bahas Novel Cinta Dalam Diam Full Episode by Shineeminka. Novel Ini bergenre Fiksi Spiritual. Buat anda yang suka membaca novel, saya rekomendasikan untuk baca cerita novel ini. Novel ini pertama kali diterbitkan di situs baca online (Wattpad) . 


Info 

Judul      : Cinta Dalam Diam 

Penulis   : Shineeminka

Genre      : Fiksi Spiritual

Source    : Wattpad

Tahun.    : 2020


Sinopsis 

Aneh, itulah pendapat yang ada dalam pikiranku saat aku melihat penampilanku hari ini di cermin. Bayangkan aku yang biasanya hanya menggunakan jins dan kemeja lengan panjang saat menemani mama berpergian hari ini tak tahu kenapa mama malah menyuruhku untuk menggunakan ghamis.



                              

"Ih, aneh banget Mah. Ganti yah Zahra keliatan kaya emak-emak kalau pake baju kaya ginian." rengekku pada Mama



                              

"Nggak hari ini kamu harus pake baju itu!" ucap Mama tegas



                              

"Please Ma, Zahra nggak percaya diri kalau harus pake baju kaya gini." aku kembali memohon pada Mama, semoga saja ia mengijinkanku untuk mengganti baju gombrang ini dengan baju yang sudah biasa aku pakai.



                              

"Nggak! Kamu mau jadi anak durhaka karena enggak nurutin permintaan Mama?" dengan cepat aku menggelengkan kepalaku "Makanya nurut dong kalau Mama suruh apa, hari ini anak kedua Tante Anisa baru pulang dari Malaysia jadi kamu harus tampil cantik."



                              

"Apa hubungannya tampil cantik sama anaknya Tante Anisa?" tanyaku bingung, bukankah hari ini aku dan Mama akan kerumah Tante Anisa untuk menghadiri pengajian yang memang sudah rutin tiap dua bulan sekali dilakukan dirumah Tante Anisa?



                              

"Cepet pake kerudungnya, entar kita telat!" bukannya menjawab pertanyaanku Mama malah menyuruhku buru-buru untuk mengenakan kerudung. Selain baju yang gombrang ternyata kerudungnnya juga Nggak kalah gombrang.



                              

"Mah kerudungnya gede banget," protesku "pake yang punya Zahra aja deh."



                              

"Nggak, itu udah sepasang sama bajunya jadi cepet pake!" lagi-lagi dari pada di cap jadi anak durhaka lebih baik aku menurut saja apa yang diinginkan oleh Mama.



                              

Karena Pak Ujang lagi sakit jadi mau tidak mau akulah yang hari ini bertugas menjadi sopir nyonya besar.



                              

"Jangan cemberut dong, nanti cantiknya hilang." bibirku yang udah maju dua centi nambah lagi deh jadi tiga centi gara-gara diledekin sama Papa "Bawa mobilnya jangan ngebut-ngebut yah pelan-pelan aja yang penting sampai dengan selamat." malas menjawab perkataan Papa jadi yang kulakukan hanyalah mengangguk.



                              

※※※



                              

Sesampainya di rumah Tante Anisa, aku langsung memisahkan diri dari kerumunan ibu-ibu yang langsung saja heboh ngobrol kalau ngumpul.



                              

"Mbak Nisya." sapaku pada Mbak Nisya yang lagi sibuk mengatur makanan yang akan disuguhkan saat pengajian selesai, Mbak Nisya ini anak pertamanya Tante Anisa, dia itu bestfriend aku di acara pengajian ini.



                              

"Wah pangling banget Mbak lihat kamu pake ghamis kaya gini, jadi tambah cantik deh keliatannya."



                              

"Masa sih Mbak?" tanyaku tak percaya "bukanya gara-gara pake baju kaya gini aku keliatan kaya emak-emak yah?"



                              

"Kata siapa kaya emak-emak? Kamu cantik kok pake baju tertutup kaya gini."



                              

Masih sulit dipercaya mana mungkin sih aku kelihatan cantik pake baju beginian, badan mungilku yang tingginya cuma 150 lebih dikit jadi keliatan tambah kecil pake baju kaya gini. Kalau Mbak Nisya sih memang terlihat cantik pake baju beginian mungkin karena ia memiliki perawakan kaya gadis-gadis arab, jadi pastinya cocoklah kalau pake baju kaya gini.



                              

"Dapatkah Aku menjadi Seperti Fatimah Az-Zahra?" ucapku membaca sampul sebuah buku yang tergeletak di samping Mbak Nisya "Buku apaan ini Mbak?" tanyaku penasaran.



                              

"Itu buku tentang akhlak mulia yang dimiliki oleh putri kesayangan Baginda Rasulullah." jelas Mbak Nisya.



                              

"Sampul bukunya bagus banget Mbak, bikin mata sejuk lihatnya."



                              

"Bukan cuma sampulnya yang bagus isinya juga bagus banget." jelas Mbak Nisya "Mau baca?" tawar Mbak Nisya.



                              

"Nggak ah, aku gak suka baca buku kaya gini, kalau novel sih aku mau."



                                              

                        

"Bener nggak mau baca? Nyesel loh kalau enggak baca soalnya isinya bagus banget." 



"Masa sih mbak?" karena hasutan Mbak Nisya akhirnya akupun berkeinginan untuk membaca buku tersebut.



Jujur yah, walaupun aku rajin nganterin Mama ketempat pengajian ibu-ibu tapi aku sangat jarang ikut dalam pengajian tersebut, habisnya pengajiannya selalu membahas tentang rumah tangga sih, akukan belum berumah tangga jadi belum saatnya mendengarkan pengajian yang mebahas tentang hal itu.



Jadi disinilah aku sekarang. Di Taman yang letaknya tidak jauh dari rumah Tante Anisa, setelah pengajian selesai aku jamin Mama pasti bakal marah-marah karena aku tidak ikut dalam pengajian.



Selagi bete liatin pemandangan taman yang udah aku hapal banget, akhirnya aku memutuskan membaca buku yang barusan aku pinjam dari Mbak Nisya.



Aku membaca acak buku tersebut, mataku langsung tertarik pada halaman yang berjudul "Maut Menjemput Fatimah Az-Zahra"



Fatimah sangat menyayangi Rasulullah hingga pada saat Rasulullah terbaring sakit Fatimah tak henti-hentinya bersedih hingga, pada detik-detik dimana saat Rasulullah dijemput malaikat maut Rasulullah membisikan kata-kata pada Fatimah "Aku akan pergi tetapi engkau yang pertama akan menyusul." mendengar perkataan itu sontak Fatimah merasa bahagia, ia bahagia karena ia akan segera meyusul kepergian ayahanda tercintanya.



Hingga tibalah malaikat mautlah yang kini menjemputnya, sebelum malaikat maut menjemputnya ia bermimpi bertemu dengan ayah yang sangat ia cintai "Wahai Fatimah! Aku datang memberi kabar gembira kepadamu, telah datang saat terputusnya takdir kehidupannya di dunia ini putriku. Tiba sudah saatnya untuk kembali ke alam akhirat! Wahai Fatimah bagaimana kalau besok malam kau menjadi tamuku?" itulah yang Rasulullah katakan pada Fatimah dalam mimpi itu.



Sebelum meninggal Fatimah menyisir rambut kedua buah hatinya Hasan dan Husein dengan air mawar, ia mendekap dan mencium Hasan dan Husein dengan penuh kasih sayang, hatinya terus bergetar karena ia tahu kalau waktunya di dunia ini tak lama lagi.



Ali termenung seraya terus memperhatikan Fatimah, lantas Fatimah berkata "Wahai Ali, bersabarlah untuk deritaanmu yang pertama dan bertahanlah untuk deritamu yang kedua! Janganlah engkau melupakan diriku. Ingatlah diriku selalu mencintaimu dengan sepenuh jiwa. Engkau kakasihku, suamiku, teman hidup yang terbaik, teman diriku berbagi derita dan teman perjalananku." Lalu keempat orang itu menangis dan berpelukan.



Aku tak menyangka kalau cerita ini berhasil membuatku menangis tersedu-tersedu. Rasa sesak seketika kurasakan "Ya Allah betapa mulianya seorang Fatimah Az-Zahra." aku kembali membaca halaman yang lain, halaman yang kini menarik perhatianku adalah halaman yang memiliki judul "Fatimah sang Pemberani" aku kembali dibuat terpesona akan sosok Fatimah, walaupun dia seorang perempuan ia tak pernah merasa takut untuk membela ayah tercitanya dalam membela Agama Allah SWT.



Halaman demi halaman telah ku baca, hingga tiba pada sebuah halaman yang berjudul "Inilah Yang Harus Ku Pakai" halaman ini berhasil membuatku merasa sangat malu, aku kira cukuplah menggunakan baju tertutup dan mengenakan jilbab maka perkara dalam urusan menutup aurat telah selesai tapi ternyata itu belumlah selesai, halaman ini menjelaskan kalau pakaian yang layaknya digunakan seorang muslimah adalah pakaian yang saat ini ku kenakan, pakaian yang sedari tadi pagi terus ku hina, padahal pada kenyataannya pakaian inilah yang paling mulia.



Baru saja aku berniat membaca halaman "Cinta Ali dan Fatimah, Cinta dalam Diam Berbalut Doa" ponselku sudah berdering dengan kencang, tanpa melihat siapa yang menelepon aku sudah tahu kalau ini adalah telepon dari Nyonya besar, dengan langkah lebar aku segera menuju kembali ke kediaman Tante Anisa.



Apa yah alasan yang harus kugunakan kalau Mama menanyakan alasan kenapa aku tidak ikut dalam pengajian hari ini?



Berhubung sudah sering banget aku keluar masuk kekediaman Tante Anisa jadi aku sudah hapal pintu mana saja yang akan aman digunkan saat situasi genting begini, jadi pintu halaman belakanglah yang aku pilih



"Aw..." pekik ku meringis saat tidak sengaja kakiku tersandung batu, gila sakit banget nih kaki "Dasar batu nyebelin!" dengan kesal ku tendang batu yang udah ngebuat kakiku sakit banget, dan betapa bodohnya aku, itu bukan bola tapi batu kenapa aku tendang jadi makin sakit nih kaki "Kau benar-benar bodoh Zahra " rutuk ku pada diriku sendiri.



"Zahra kamu kenapa? Ko malah jongkok di sini sih Mama kamu dari tadi nyariin kamu." eh ko ada Tante Anisa, perasaan tadi hanya ada aku aja di sini. Terus sejak kapan juga ada cowok di sini?



"Ini tante, tadi aku habis dari taman beli siomay eh pas balik kaki aku malah kesandung." jawabku cepat



"Kok bisa sih kesandung?"



"Dia jalannya gerasak gerusuk Mah jadi enggak sadar kalau ada batu segede gitu di depannya, makanya ia tendang tuh batu." Gila songong banget nih cowok segala ngatain aku gerasak gerusuk. Siapa sih nih cowok?



"Al kamu ko ngomongnya nggak sopan sih." ucap Tante Nisya pada cowok songong itu. Rasain, emang enak di marahin. "Eh iya Ra, kenalin ini anak Tante namanya Ali."



Oh ini toh anaknya Tante Anisa yang baru pulang dari Malaysia. "Zahra." ucapku seraya mengulurkan tanganku kearahnya, gila bener-bener songong nih cowok bukannya disambut uluran tanganku dia malah pergi gitu aja.



"Maaf yah Zahra, Ali memang gitu sikapnya rada dingin kalau ke lawan jenis." jelas Tante Anisa.



"Iya nggak apa-apa tante."



"Ayo masuk, Mamamu udah dari tadi nyariin kamu soalnya pengajiannya udah selesai dari satu jam yang lalu." Apa pengajiannya udah selesai dari satu jam yang lalu? Itu berarti udah tiga jam lebih aku baca buku ini di taman. Alamat kena amuk ini mah.



Tanpa banyak membuang waktu lagi aku langsung berlari ke dalam rumah Tante Anisa.



"Mama." panggilku mencari sosok Mamaku tercinta.



"Sayang dari mana saja kamu dari tadi, kenapa nggak ikut pengajian?" nadanya lembut tapi menipu, aku jamin bentar lagi Mama bakal ngamuk-ngamuk "Sini!" dengan penuh kewaspadaan aku menghampiri Mama yang terlihat sangat tenang duduk di sofa yang terletak di ruang keluarga, saking tenangnya Mama itu membuatku semakin takut.



"Kenapa tidak ikut pengajian?" sekali lagi Mama menanyakan hal itu.



Dengan ragu aku mengangkat buku yang sedari tadi tak pernah lepas dari tanganku "Zahra baca buku ini, saking asiknya Zahra baca buku ini Zahra enggak sadar kalau Zahra udah ngelewatin pengajian hari ini Mah." jawabku jujur, walaupun setengah. Padahal emang aku udah niat buat enggak ikut pengajian hari ini, tapi karena keasikan baca buku ini juga yang telah membuatku lupa waktu.



Mama terus memperhatikan buku yang masih ada di tanganku "Kapan kamu akan mencontoh perilaku Fatimah Az-Zahra?" pertanyaan Mama berhasil membuat diriku terpaku, dengan lembut Mama membelai pipiku "Mama menamaimu Zahra bukan tanpa alasan, Mama menamaimu seperti itu karena Mama berharap kamu akan menjadi perempuan sehebat Fatimah Az-Zahra." tak tahu kenapa seketika aku merasa ingin menangis mendengar ucapan Mama?



"Maafin Zahra Mah." ku peluk erat tubuh Mama, tangis tak sanggup lagi ku tahan.



Ya Allah betapa banyak kesalahan yang telah ku lakukan selama ini, betapa banyak rasa kecewa yang telah ku torehkan kepada sosok wanita yng kini berada dalam pelukanku.



"Udah malu jangan nangis, masa udah gede masih aja nangis, malu tuh diliatin sama keluarganya Tante Anisa." ih Mama ngerusak suasana aja udah tahu ini tuh lagi dalam moment emosional.



"Mama juga nangis, nggak malu udah tua masih aja nangis?" ledekku tidak mau kalah.



"Udah belum yah acara tangis-tangisannya?" ucap Tante Anisa yang langsung duduk di sampingku, dengan tiba-tiba Tante Anisa memelukku "Jadi pengen cepet-cepet ngejadiin Zahra anak Tante."



Aku merengut bingung, sejak kapan Tante Anisa mau ngangkat aku jadi anaknya? Diakan udah punya Mbak Nisya dan Cowok songong itu masa mau nambah anak lagi.


                          

     


Cara baca Novel Cinta Dalam Diam full episode by Shineeminka

Sinopsis diatas merupakan Sedikit Cerita Dari Novel Cinta Dalam Diam karya Shineeminka. Nah, Teruntuk kalian pecinta novel, sebenarnya masih panjang sekali kelanjutan ceritanya. Sang Penulis(Author) Membuat ceritanya sangat menarik, merangkai kata-kata nya itu Loh yang membuat pembaca masuk kedalam jalan ceritanya. Berikut ini jika kalian ingin membaca secara full.


Yang pertama kalian install dulu aplikasi Wattpad di PlayStore/AppStore. Kemudian cari di aplikasi tersebut dengan katalog Cinta Dalam Diam

Yang Kedua Kalian siapkan coffee atau teh hahaha. 

Nah yang Terakhir kalian bisa melakukan download file ebooknya, bisa download di bawah ini. 

Novel Cinta Dalam Diam


Penutup

Itulah sedikit artikel tentang cara membaca full episode novel Cinta Dalam Diam karya dari Shineeminka , Semoga bermanfaat bagi kalian.. Terima Kasih. 


Post a Comment